PENGARUH EKSTRAK KULIT BUAH SALAK (Salacca zalacca (Gaertn.) Voss) TERHADAP PERTUMBUHAN Escherichia coli

Rahmah, Umi PENGARUH EKSTRAK KULIT BUAH SALAK (Salacca zalacca (Gaertn.) Voss) TERHADAP PERTUMBUHAN Escherichia coli. Biospesies. ISSN 1979-0902 (Unpublished)

[img]
Preview
Text
A1C412002-ARTIKEL.pdf

Download (652kB) | Preview

Abstract

Salak merupakan tanaman asli Indonesia yang termasuk dalam famili Arecaceae, serumpun dengan kelapa, kelapa sawit, aren (enau), palem, pakis yang bercabang rendah. Kulit pada buah salak merupakan limbah yang biasanya tidak terpakai lagi. Namun dalam kulit buah ini mengandung senyawa flavonoid, tanin, alkaloid dan saponin yang dapat berguna sebagai antibakteri. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh ekstrak kulit buah salak (S. zalacca) Var. Pondoh terhadap pertumbuhan E. coli dan untuk mengetahui konsentrasi optimal dari ekstrak kulit buah salak dalam menghambat pertumbuhan E. coli. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimen dengan menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) yang terdiri dari 5 macam perlakuan konsentrasi eksrak kulit salak, yaitu: kontrol (diberi Chloramphenicol 10%), 25%, 50%, 75% dan 100%. Setiap perlakuan terdiri dari 5 ulangan sehingga diperoleh 25 unit percobaan. Dalam penelitian ini dilakukan terhadap zona hambat (zona hallow) yang terbentuk dan uji fitokimia. Data yang diperoleh dianalisis secara ANOVA dan apabila terdapat pengaruh dilanjutkan dengan uji Duncan Multiple Test (DNMRT) pada taraf nyata 5%. Sedangkan uji fitokimia berdasarkan perubahan warna yang terjadi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak kulit buah salak berpengaruh terhadap diameter zona hambat pertumbuhan bakteri E. coli. Rata-rata zona hambat ekstrak kulit buah salak bervariasi yaitu 6,8 mm sampai 25 mm. Pada perlakuan kontrol (Chloramphenicol 10%) yang merupakan zona hambat terbesar yaitu 25 mm berbeda nyata dengan perlakuan lainnya yaitu konsentrasi ekstrak 25%, 50%, 75% dan 100%. Konsentrasi 100% dengan zona hambat sebesar 18,6 mm juga berbeda nyata dengan konsentrasi lainnya yaitu ekstrak 25%, 50% dan 75%. Sedangkan pemberian ekstrak dengan konsentrasi 25% tidak berbeda nyata dengan perlakuan konsentrasi ekstrak 50% dan 75%, namun berbeda nyata dengan perlakuan konsentrasi 100% dan kontrol (Chloramphenicol 10%). Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa ekstrak kulit buah salak berpengaruh terhadap pertumbuhan E. coli dan konsentrasi kulit buah salak yang optimal dalam menghambat pertumbuhan bakteri E. coli adalah konsentrasi 100%. Dari hasil peneltian ini disarankan untuk menggunakan kulit buah salak sebagai antimikroba dalam pengobatan secara tradisional dan perlu dilakukan pengujian terhadap masing-masing kandungan senyawa di dalam kulit buah salak (S. zalacca) sebagai antibakteri.

Type: Article
Subjects: Q Science > Q Science (General)
Q Science > QR Microbiology
Depositing User: Umi Rahmah
Date Deposited: 19 Jul 2017 03:16
Last Modified: 19 Jul 2017 03:16
URI: http://repository.unja.ac.id/id/eprint/1409

Actions (login required)

View Item View Item