PENGEMBANGAN TEKNOLOGI HAPLOID DAN DOUBLED-HAPLOID UNTUK PERBAIKAN MUTU GENETIK TANAMAN KEDELAI (PENGARUH PROLINE DAN PUTRESCINE TERHADAP PROLIFERASI KALUS EMBRIOGENIK PADA KULTUR ANTERA)

Zulkarnain, Zulkarnain (2008) PENGEMBANGAN TEKNOLOGI HAPLOID DAN DOUBLED-HAPLOID UNTUK PERBAIKAN MUTU GENETIK TANAMAN KEDELAI (PENGARUH PROLINE DAN PUTRESCINE TERHADAP PROLIFERASI KALUS EMBRIOGENIK PADA KULTUR ANTERA). In: Seminar Hasil-Hasil Penelitian Dosen Universitas Jambi, 16 Februari 2008, Universitas Jambi, Jambi.

[img] Text
Prosiding Seminar - Repository.pdf

Download (593kB)

Abstract

Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Bioteknologi Tanaman, Fakultas Pertanian, Universitas Jambi dari bulan Januari hingga September 2007 dengan tujuan untuk menda-patkan takaran proline dan putrescine yang efektif untuk induksi embriogenesis pada kultur antera kedelai yang dikulturkan pada medium MS padat yang dilengkapi dengan zat peng-atur tumbuh 2,4-D dan kinetin. Penelitian terdiri atas dua percobaan, yaitu pengujian ber-bagai tingkat konsentrasi proline (0, 25, 50, 75 dan 100 mM) dan pengujian berbagai tingkat konsentrasi putrescine (0, 2,5, 5,0, 7,5 dan 10,0 mM). Baik proline maupun putrescine diuji pada media dengan dua komposisi zat pengatur tumbuh yang berbeda, yaitu 20 M 2,4-D + 10 M kinetin dan 20 M 2,4-D + 20 M kinetin. Antera yang digunakan diperoleh dari tu-nas bunga berukuran 2,5 – 3,5 mm dari kedelai kultivar Merubetiri. Kultur ditempatkan di dalam ruang kultur dengan fotoperiodesitas 16 jam dan intensitas cahaya lebih-kurang 50 µmol m-2 sec-1. Suhu di dalam ruang kultur berkisar antara 24 hingga 26 oC. Percobaan ini terdiri atas 5 ulangan di mana setiap ulangan terdiri atas 1 wadah kultur yang masing-ma-sing berisi 10 antera yang berasal dari tunas bunga yang sama. Pengamatan dilakukan se-tiap minggu selama 8 minggu. Respon yang diperlihatkan oleh antera kedelai yang dikultur-kan pada media MS padat yang dilengkapi dengan berbagai konsentrasi proline serta 20 M 2,4-D + 10 M kinetin atau 20 M 2,4-D + 20 M kinetin, adalah berupa proliferasi kalus yang terjadi dalam kurun waktu 4 hingga 17 hari setelah inisiasi kultur. Sementara itu pada putrescine, proliferasi kalus terjadi lebih lambat, yaitu dalam waktu 4 – 20 hari setelah ini-siasi kultur. Pembentukan kalus diawali dengan terjadinya pembengkakan pada permuka-an antera, yang berlanjut dengan terjadinya perubahan warna dari hijau muda menjadi ke-coklatan. Dalam perkembangan selanjutnya dinding antera menjadi tidak rata (amorf), dan akhirnya antera diselimuti oleh massa kallus berwarna putih, krem, kecoklatan, hijau muda dan/atau hijau tua. Pada awalnya kalus memiliki struktur remah dan kompak, namun sete-lah 2 minggu proliferasi sebagian besar kalus memperlihatkan struktur yang kompak dan memperlihatkan ciri-ciri kalus embriogenik. Di antara takaran proline yang diuji tidak ditemukan tingkat konsentrasi yang berpengaruh signifikan terhadap proliferasi kalus. Se-dangkan di antara takaran putrescine yang dicobakan, proliferasi kalus terbaik diperoleh pada konsentrasi 2,5 M; apabila konsentrasi putrescine melampaui 2,5 M, maka prolife-rasi kalus akan mengalami hambatan.

Type: Conference (Paper)
Subjects: S Agriculture > S Agriculture (General)
S Agriculture > SB Plant culture
Depositing User: ZULKARNAIN
Date Deposited: 11 Dec 2018 01:10
Last Modified: 11 Dec 2018 01:10
URI: http://repository.unja.ac.id/id/eprint/6278

Actions (login required)

View Item View Item