Menjaga Nilai-Nilai Religius dalam Adat dan Budaya Melayu Jambi Di Era Globalisasi

Ramli, Supian (2014) Menjaga Nilai-Nilai Religius dalam Adat dan Budaya Melayu Jambi Di Era Globalisasi. MENJAGA NILAI-NILAI RELIGIUS DALAM ADAT DAN BUDAYA MELAYU JAMBI DI ERA GLOBALISASI . Supian, Referensi Jakarta. ISBN 978-979-9152-38-1

[img]
Preview
Image
Cover Prosiding UNJA.jpg

Download (700kB) | Preview
[img] Text
Prosiding Seminar.doc

Download (6MB)
[img] Text
Nilai Religius dalam Budaya Melayu Jambi.docx

Download (57kB)

Abstract

Daerah Jambi, sudah sejak zaman dahulu didiami oleh penduduk yang haterogen, penduduk yang bermukim di daerah Jambi atau penduduk kesultanan Jambi, meskipun berasal dari –atau disebut juga—dari suku dan daerah yang berbeda, tetapi kemudian secara umum disebut sebagai orang melayu, atau penduduk melayu Jambi. Oleh karena itu Budaya Jambi kemudian menjadi identik dan dikenal juga dengan sebutan budaya melayu Jambi. Demikian pula dalam konteks sejarah nasional, daerah Jambi atau Provinsi Jambi merupakan daerah pusat kerajaan melayu, sehingga adat istiadat Jambi, baik dari aspek sejarahnya, hukum adatnya, sastra dan seloko adatnya, tata upacara adatnya, seni dan budaya adatnya serta pakaian dan budayanya tidak terlepas dari nilai-nilai adat melayu. Diberi nama melayu atau didefinisikan sebagai melayu, bahkan menjadi budaya dan adat, dimana orang Melayu adalah orang yang mempunyai etika, tingkah laku dan adat Melayu. Pada waktu Islam mulai dianut di daerah Sumatera dan Semenanjung Malaka, keyakinan dan ketaatan terhadap agama islam menjadi salah satu ciri khas dari orang Melayu. Pada abad ke-18, William Marsden menyebutkan bahwa dalam percakapan sehari-hari, penyebutan bangsa Melayu adalah sama dengan sebutan bangsa yang memiliki ketaatan terhadap agama Islam. Meskipun Sebelum Islam masuk ke daerah Jambi yang diperkirakan pada abad pertama Hijriah , nenek moyang daerah Jambi merupakan penganut animisme dan dinamisme, penganut ajaran agama Hindu, dan kemudian penganut ajaran agama Budha. Bahkan pada masa agama Budha daerah Jambi menjadi pusat agama Budha, tepatnya daerah muara Jambi, dengan komplek situs percandian yang sangat monumental. Para ahli sejarah dan arkeologi melihat pada peninggalan bersejarah tersebut menunjukkan bahwa agama Budha sudah eksis di wilayah ini jauh sebelum Islam masuk ke daerah Jambi. Hal tersebut dipertegas lagi dengan kedatangan I-Tsing ke negeri Melayu dan pada abad ke 11 M Atisa penggubah agama Budha di Tibet belajar di Jambi. Tetapi kemudian agama yang berkembang pesat bahkan menjadi mayoritas hingga saat ini di daerah Jambi adalah agama Islam. Sejak abad ke 14 masehi itu, pada saat Ahmad Salim memegang kekuasaan kerajaan Melayu hingga Jambi dikuasai oleh Belanda, maka raja-raja Jambi merupakan penganut Islam yang taat dan tangguh, sehingga kerajaan Jambi berubah menjadi Kerajaan Islam dengan sebutan Kesultanan Jambi. Dalam kenyataannya, adat istiadat dan budaya sangat dipengaruhi oleh ritual dan keyakinan agama. Pada saat masyarakat Jambi masih menganut kepercayaan animisme, dinamismen, hindu dan kemudian Budha, maka adat dan budaya masyarakat Jambi waktu itu diwarnai oleh ajaran-ajaran tersebut. Selanjutnya ketika masyarakat Jambi menganut agama Islam, maka adat dan hukum adat serta budayanya kemudian diwarnai oleh ajaran Islam. Hanya saja ajaran Islam ini begitu dalam menusuk jiwa mereka membuat pengaruhnya terhadap adat dan budaya Jambi sangat besar melahirkan keyakinan bahwa adat istiadat dan budaya tersebut tidak boleh bertentangan dengan agama Islam. Keyakinan ini kemudian membuahkan kesepakatan bagi pemeluk agama Islam di Kesultanan Jambi untuk berpegang kepada adagium “Adat Bersendi Syarak dan Syarak Bersendi Kitabullah”. Bukan Adat Bersendi Syarak dan Syarak Bersendi Adat. Adagium ini kemudian menafikan pengaruh agama-agama dan kepercayaan yang pernah ada sebelumnya. Agama yang pernah ada sebelumnya cepat tersingkir dan agama baru yang lain dari Islam yang mencoba mempengaruhi, dengan adagium ini dengan sendirinya menjadi tertolak. Dengan Demikian, maka adat dan budaya Melayu Jambi menjadi sangat religius, karena didasari oleh ajaran-ajaran Kitabullah. Dan nilai-nilai religius tersebut adalah nilai-nilai religius yang islami, sehingga menarik untuk ditelaah mengenai nilai-nilai religius yang mewarnai budaya melayu Jambi tersebut.

Type: Book
Uncontrolled Keywords: Menjaga Nilai-Nilai Religius dalam Adat dan Budaya Melayu Jambi Di Era Globalisasi
Subjects: B Philosophy. Psychology. Religion > BL Religion
Divisions: Faculty of Law, Arts and Social Sciences > School of Humanities
Depositing User: SUPIAN
Date Deposited: 12 Jun 2017 02:10
Last Modified: 12 Jun 2017 02:10
URI: http://repository.unja.ac.id/id/eprint/696

Actions (login required)

View Item View Item